Beberapa waktu lalu, kami menemukan sebuah halaman menarik di sosial media facebook. Laman profil bernama "Galo Galo Paliko" tersebut muncul di beranda saat sedang berselancar di facebook. Merasa tertarik dengan konten yang muncul, kami putuskan untuk kontak empunya laman. Dengan pertimbangan lokasi yang bersangkutan dekat dengan markas "Dosen Petani", kami meminta waktu untuk dapat berkunjung langsung dan berbincang dengan Muttaqin (26), penggagas Galo Galo Paliko.


Kami disambut senyum ramah, pemuda inspiratif ini langsung mempersilahkan kami duduk di lokasi budidaya lebah trigonanya. Terdapat kurang lebih 20an stup lebah trigona di lokasi ini, sebelum mulai cerita kami sempat diajak mengintip kantung-kantung madu lebah trigona. Ada empat jenis lebah trigona di lokasi ini, 1. Tetragonula fuscobalteata, 2.Tetrigona Binghami, 3. Heterotrigona Itama, 4. Geniotrigona Thoracica. Dari empat jenis lebah tadi, kami sempat mencoba langsung meminum madu lebah spesies Heterotrigona Itama dari kantung-kantung madu dalam stup.


Sebab ini pengalaman pertama, tentu saja sebelum menyeruput madu dari kantung-kantung dalam stup beberapa bayangan terlebih dahulu muncul dalam pikiran. Terlebih lagi, secara bentuk fisik kantung madu trigona ini berbeda dengan kantung madu lebah biasa. Muttaqin lantas membuka beberapa kantung madu Heterotrigona Itama yang seukuran telur puyuh, mempersilahkan kami menyeruput dan merasakan langsung madunya. Rasanya manis di awal, lalu ada rasa sedikit asam di akhir, memperhatikan ekspresi kami Muttaqin langsung menjelaskan bahwa rasa asam tersebut mencari ciri khas madu trigona karena proses fermentasi alaminya.

Setelah mencoba menyeruput madu dari stup, kami mulai bercerita tentang bagaimana Galo Galo Paliko terbentuk. Aqin, sapaan akrab Muttaqin mengawali cerita 10 tahun lalu, saat dia mulai mengkonsumsi madu trigona atau dalam bahasa lokal (minangkabau) disebut galo-galo. "Orang banyak menyangka galo-galo ini merusak, melubangi kusen-kusen pintu rumah lantas bersarang di sana. Padahal tidak demikian, galo-galo justru bersarang di kusen lapuk yang dirusak atau dilubangi rayap. Galo-galo sama dengan lebah lain, tidak mengganggu justru memberi manfaat", buka Aqin memperkenalkan apa itu galo-galo.


Saat ditanya apa kelebihan galo-galo dibanding lebah madu biasa, Aqin menjelaskan mulai dari sisi keamanan budidaya. "Galo-galo ini kan lebah kecil tanpa sengat, jadi untuk pembudidaya pemula tetap aman aja. Diantara jenis-jenisnya, Itama mungkin yang bisa dibilang paling agresif, namun serangannya tidak menyakitkan seperti lebah madu yang bersengat. Kalau keunggulan lain dari sisi kualitas madunya, Saya pribadi menjelaskan ini dengan sumber beberapa penelitian termasuk dari negara tetangga. Simpulan yang Saya dapat bahwa kualitas madu Galo Galo ini bahkan lebih baik dari madu lebah hutan", sambungnya.


Saat ini kelompok budidaya trigona yang digagas Aqin sudah mengayomi 30an peternak. Aqin optimis dengan peluang dan perkembangan budidaya trigona ini ke depannya. Menurutnya, masyarakat mulai menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan utamanya dalam masa pandemi ini. Ini juga yang membuat permintaan akan madu meningkat, namun masih perlu mengedukasi masyarakat sebagai konsumen tentang bagaimana kualitas dan manfaat madu lebah trigona.

Untuk informasi lebih lanjut terkait madu dan atau tertarik budidaya lebah trigona ini, bisa datang langsung ke lokasi Galo Galo Paliko di Nagari Andaleh, Kec. Luak Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Mau tau gambaran jelasnya, silahkan klik dan tonton video di bawah ini :




1 Komentar

  1. Semoga bermanfaat bg.dan Meng inspirasi Masyarakat untuk mencoba Budidaya Madu Galo-galo. Sebagai upaya untuk menunjang perekonomian Produktif.

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama