Sahabat dosen petani, kali ini kita mau ajak sahabat semua untuk kenalan dengan seorang mahasiswa dari sebuah kampus di Kota Bukittinggi. Namanya Sharil Okarahadi, biasa dipanggil Sharil dan saat ini tengah menempuh pendidikan di Program Studi Sarjana (S1) Bisnis Digital semester 3. Sebagai seorang mahasiswa yang bergelut dengan bisnis dan teknologi, beberapa usaha pernah dicoba, termasuk di bidang pertanian. Hal ini menurutnya perlu dilakukan karena untuk memperoleh kemampuan bisnis, maka harus dicoba, mesti diterapkan agar ilmu di bangku kuliah bisa diimplementasikan dengan pengalaman langsung di lapangan.

Di masa pandemi tepatnya sejak Maret 2020, praktik membuat waktu di rumah menjadi lebih banyak. Hal ini karena pemberlakuan PSBB dan kuliah dalam jaringan. "Awalnya saya sempat canggung karena kebanyakan di rumah, sementara baru saja mulai mampu beradaptasi dengan kehidupan kampus. Namun selang beberapa minggu mulai kepikiran, di rumah aja gak ngapa-ngapain kok berasa bosan. Mencari cara juga agar lebih produktif sambil belajar bisnis, utamanya belajar bagaimana menjual produk langsung ke konsumen", ujar Sharil membuka percakapan.

Ketika ditanya kenapa memilih untuk bertani Sharil menjawab karena pertanian itu menarik, selain karena memang ini pula sumber daya yang dimiliki dan paling memungkinkan untuk dilaksanakan. "Sebelumnya sempat coba tanam jagung manis, cuma karena beberapa kendala justru tidak menguntungkan. Secara ilmu manajemen dan bisnisnya, saya mungkin dapat profit berupa ilmu dan pembelajaran, namun di sisi keuangan memang mengalami kerugian. Saat itu saya kan cerita ke Bapak (Dosen Petani), dari bincang-bincang waktu itu saya putuskan untuk beralih ke sayuran tepatnya kangkung", sambung Sharil.


Menurut Sharil, untuk proses tanam, perawatan hingga panen, sayur kangkung termasuk mudah dibudidayakan. Ia memulai belajar budidaya kangkung dengan membuat bedengan tanam memanfaatkan pekarangan di belakang. Lokasi ini dipilih karena selama ini tidak produktif, dibiarkan semak saja. Alasan lain, karena ingin mencoba budidaya kangkung skala kecil dulu sembari belajar untuk membuka yang lebih besar.

Kangkung termasuk jenis sayuran yang digemari pasar, harganya yang relatif sangat terjangkau juga membuat permintaan terhadap sayuran ini selalu baik di pasaran. Seikat kangkung biasa dijual dengan harga Rp. 1.000 hingga Rp. 2.000, tergantung seberapa besar ukuran ikatan kangkungnya. Meskipun harga jualnya murah, bukan berarti tidak ada peluang keuntungan yang menarik dalam budidaya sayur kangkung ini. Hal ini karena modal yang diperlukan juga relatif sangat kecil, tidak butuh biaya perawatan yang besar.


Menutup cerita, Sharil membocorkan modal yang dia butuhkan untuk memulai budidaya ini. "Jelas modalnya sangat kecil, paling cuma beli bibit kangkungnya saja. Untuk percobaan awal kan saya buatkan bedengan tanam dengan sekat-sekat bambu, di dalamnya saya isi campuran tanah dan pupuk kandang kotoran sapi. Pupuk kandang saya tidak beli, Alhamdulillah di sini banyak peternak yang senang kalau kotoran sapi mereka diambil, jadi ada yang sekalian bersihkan kandang mereka. Bambu untuk sekat juga tidak beli, kebetulan juga punya sendiri, satu-satunya yang beli itu bibit kangkungnya seharga Rp.105.000 untuk tiga bungkus. Kalaupun mau beli semua, saya perkirakan gak sampai Rp.200.000 sudah bisa mulai budidaya kangkung, dengan potensi omset penjualan hingga Rp.700.000 atau lebih. Intinya lumayanlah, menarik untuk uang jajan di masa pandemi".

Gimana sahabat, tertarik mencoba?

1 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama