Manusia selalu punya cara untuk memudahkan pekerjaannya! Ini teknologi tua, saat deru mesin masih belum mudah diakses seperti saat ini. Nenek moyang kita Orang Minangkabau telah memproduksi gula di masa kolonial. Untuk mengejar produksi dan mengurangi lelah manusia memutar tuas penggiling tebu, digunakanlah teknologi "kerbau penggiling tebu".
Hari ini, penggunaan kerbau sebagai mesin "ramah lingkungan" mungkin sudah tak lazim dijumpai. Ia kalah produktif dibanding mesin-mesin baja yang bisa perah tebu berkwintal-kwintal sehari. Namun, kenangan dan pondasi sejarah tak boleh hilang. Itulah semangat yang dibawa oleh Datuak Pangulu Sati (71) saat membuat replika kilang tebu zaman kolonial ke tengah zaman millenial ini.

Datuak pangulu sati dalam ceritanya menyatakan bahwa beliau memperoleh ilmu ini dari orangtuanya. "Orang tua saya dulunya juga pembuat saka (gula merah, Minang), zaman dulu belum ada mesin dan caranya dengan kerbau ini. Dari cerita yang Saya dapat, sebelum menggunakan kerbau, yang memutar tuas adalah manusia. Setidaknya butuh 2 hingga tiga orang agar putaran tuas tidak terasa terlalu berat" sambung Datuak Pangulu Sati.


Kunci dari teknologi sederhana ini terdapat pada gear kayu yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa tersambung dengan tuas. Tuas panjang inilah yang dipanggul ke pundak kerbau untuk diputar sebagai penggerak bagian penggiling. Bagian penggiling sendiri tak lain adalah kayu besar yang dipahat menjadi gear pemutar tadi. Sepaket alat tradisional ini semuanya terbuat dari kayu, sehingga Datuak Pangulu Sati sendiri meyakini bahwa gula merah zaman dahulu lebih sehat, sebab terjamin bebas dari karat besi.

Sebelum mulai berputar mengelilingi alat peras dengan tuas yang tersambung ke pundaknya, kerbau terlebih dahulu akan ditutup matanya. Mata kerbau pertama ditutup dengan batok kelapa, selanjutnya dililit dengan kain sehingga kerbau sama sekali tak bisa melihat. Menutup mata kerbau ini bertujuan agar si kerbau tak merasa pusing saat berkeliling berkali kali, selain itu juga agar si kerbau lebih patuh dan mau berjalan.

Namanya teknologi tradisional "non mesin", kerbau tak bisa dipaksa untuk menghasilkan perahan air tebu sebanyak mesin modern. Jika dengan mesin para pengrajin gula tebu bisa hasilkan ratusan kilogram gula merah, maka dengan kerbau hanya bisa hasilkan 70kilogram saja perharinya. Sekali memutar, kerbau mampu berjalan berkeliling selama 1-2 jam saja, selanjutnya istirahat untuk diberi makan. Praktis hal ini tidak akan mampu mengejar produktivitas mesin dalam hasilkan perahan air tebu.


Hari ini, kilang tebu Datuak Pangulu Sati tidak berproduksi untuk kebutuhan industri gula merah. Kerbau hanya akan memutar kilang ketika ada pengunjung yang ingin menyaksikan demonstrasi penggilingan tebu secara tradisional. Lokasi kilang tebu yang berada di akses menuju Objek Wisata Puncak Lawang dan Lawang Park, membuat kilang ini cukup banyak pengunjung utamanya di masa liburan.

Untuk sahabat yang berkunjung ke sini, bisa singgah di kilang tebu tradisional milik Datuak Pangulu Sati di Desa Gajah Mati, Puncak Lawang Kecamatan Matur, Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat. Video kilang tebu tradisional bisa sahabat saksikan di bawah ini :



Post a Comment

أحدث أقدم