Kita sebagai orang Indonesia tentu sudah tak asing lagi dengan cabe rawit. Banyak makanan di Negeri ini yang menggunakan cabe rawit sebagai bahan penyedap rasanya. Saat menikmati tahu goreng misalnya, tak lengkap rasanya jika tidak ditambahkan dengan pedasnya cabe rawit. Karena hal ini pulalah kebutuhan akan cabe rawit cenderung stabil sepanjang tahun.

Ada banyak varietas cabe rawit yang dibudidayakan di Indonesia, mulai dari yang buahnya benar-benar kecil hingga ke ukuran besar. Pemilihan varietas biasanya disesuaikan dengan permintaan dan kegemaran pasar di daerah masing-masing. Di Sumatera Barat misalnya, cabe rawit hijau dengan ukuran sedang jauh lebih digemari ketimbang cabe rawit putih ukuran besar. Dengan kondisi tersebut, mayoritas petani di Sumatera Barat akan memilih membudidayakan cabe rawit hijau ketimbang jenis lainnya.

Pada tulisan ini, kami akan mengulas analisa dan peluang usaha budidaya cabe rawit secara garis besar. Beberapa penyesuaian bisa saja sahabat lakukan tergantung kondisi daerah sahabat masing-masing. Hal terpenting adalah, setelah membaca tulisan ini harapannya sahabat sudah memahami secara mendasar tentang analisa dan peluang usaha budidaya cabe rawit tersebut. Mari kita mulai.


Sekilas Tentang Cabe Rawit

Cabe rawit cenderung lebih mudah dalam hal perawatan dibanding jenis cabe keriting. Namun demikian, berdasarkan pengalaman kami di lapangan, hal ini bukan berarti bahwa budidaya cabe rawit boleh menafikan kegiatan perawatan itu sendiri. Penyakit-penyakit seperti antraknosa/patek tetap bisa menyerang cabe rawit, bila ini terjadi tentu saja petani bisa gagal panen.

Sama seperti cabe keriting, budidaya cabe rawit juga bisa dilakukan dalam media pot atau polybag. Sepanjang budidaya, satu batang cabe rawit bisa menghasilkan buah sebanyak 1-2 kilogram dengan waktu hidup bisa sampai dua tahun. Untuk harga pasar, cabe rawit bisa menembus angka lebih dari Rp.100.000 per kilogram ketika ketersediaan berkurang. Ketika stok melimpah, cabe rawit bisa saja dihargai kurang dari Rp.10.000 per kilogramnya.


Tahapan Budidaya Cabe Rawit

Beberapa tahapan yang dilalui dalam budidaya cabe rawit pada dasarnya tidak berbeda dengan tanaman cabe lainnya. Hal pertama yang dilakukan petani adalah persiapan lahan, baik di lahan tanam maupun media seperti pot atau polybag. Untuk contoh kali ini, kita akan berikan gambaran budidaya cabe rawit pada lahan tanah (bukan pot atau polybag). Maka tahapan persiapan lahan dimulai dari penggemburan, pembuatan bedengan tanam hingga penaburan pupuk dasar dan kapur pertanian(jika diperlukan).


Selanjutnya adalah pemilihan bibit, ada beberapa alternatif terkait bibit cabe rawit. Sahabat bisa memilih membeli bibit kemasan yang banyak dijual di toko-toko pertanian, atau membeli langsung ke petani di lahan. Butuh waktu setidaknya 1 bulan sejak benih disemai hingga bibit siap untuk dipindah ke media tanam. Opsi selanjutnya adalah sahabat juga bisa membeli dari nursery atau pembibitan tanaman, untuk pilihan yang ini biasanya sahabat bisa langsung tanam tanpa harus menunggu.

Setelah anakan/bibit cabe berdaun 5 helai atau usia kurang lebih 30hari sejak semai, bibit/anakan siap dipindahkan ke media tanam. Pemindahan ini sebaiknya dilakukan sore hari dengan pertimbangan waktu menjelang terik matahari akan lebih panjang, sehingga resiko kekeringan lebih sedikit. Pemindahan dilakukan dengan mencabut anakan/bibit cabe dari feedtray atau media semai dengan hati-hati, kemudian ditanamkan pada media tanam. Pada musim kemarau, masa adaptasi setelah pemindahan akan lebih beresiko kekeringan sehingga perlu dilakukan penyiraman rutin saat pagi dan sore hari.

Pemupukan susulan dapat dilakukan pada 1 minggu setelah tanam, selanjutnya dilakukan secara kontinyu di tiap minggunya. Penyemprotan juga dilakukan secara berkala untuk mencegah kemungkinan serangan hama baik jamur, ulat, bahkan serangga yang menjadi vektor pembawa virus / bakteri. Pengendalian terhadap hama ini sangat penting mengingat ada banyak hama / penyakit yang bisa menyebabkan petani gagal panen, seperti antraknosa (patek) atau virus gemini (bulai).

Di usia kurang lebih 3 bulan setelah tanam, cabe rawit sudah mulai bisa dipanen. Frekuensi panen beragam tergantung jenis dan tempat tumbuh cabe rawit, ada yang dapat dipanen tiap minggu, tiap 10 hari atau tiap 2 minggu. Buah yang dipanen juga tergantung permintaan pasar, di beberapa daerah biasanya konsumen menginginkan cabe rawit yang matang, namun beberapa lainnya justru menginginkan cabe rawit muda. Karenanya, sebelum memulai budidaya ada baiknya petani melakukan pemetaan pasar, cabe rawit seperti apa yang paling dibutuhkan oleh pasar di daerahnya.

Sepanjang masa budidaya, satu batang cabe rawit berpotensi menghasilkan 1-1,5Kg buah cabe rawit. Potensi maksimal ini bisa didapatkan dengan kondisi tanaman cabe rawit sehat dan terawat dengan baik. Oleh sebab itu, perawatan optimal mutlak menjadi hal yang harus dilakukan oleh petani. Jika tidak, tentu sulit untuk mendapat hasil panen sesuai harapan.



Analisa Usaha

Pada contoh kali ini, kami mengulas analisa usaha budidaya cabe rawit lokal besar dengan bobot buah rata-rata 3gr pada lahan seluas 700m2. Dengan lahan yang tidak terlalu luas ini, kami bisa budidayakan cabe rawit dengan populasi sebanyak + 1300 batang. Berikut analisa usahanya :

A. Biaya Awal (Dikeluarkan Sekali Pada Awal Budidaya)
Pembersihan lahan                        : Rp. 200.000 (2 hari kerja)
Pembuatan Bedengan                    : Rp. 300.000 (3 hari kerja)
Pupuk Dasar (kandang)                 : Rp : 450.000 (30 karung)
Pupuk Dasar (kimia)                     : Rp. 440.000 (Phonska 50kg, KCL 15kg, SP36 15kg)
Plastik Mulsa 10kg                        : Rp. 280.000
Bibit Cabe Siap Tanam                  : Rp. 360.000 (1500 batang)
Tonggak Ajir                                 : Rp. 390.000 (1300 batang)

B. Biaya Perawatan (Akumulasi Sepanjang Masa Budidaya)
Pemupukan Susulan                       : Rp. 700.000 (Grower, SS, Organik)
Penyemprotan Pestisida                 : Rp. 830.000 (Fungisida, Insektisida, Bakterisida)
Upah Kerja                                     : Rp. 3.000.000 (30 hari kerja - termasuk panen)
Total Biaya---------------------------------- + Rp. 6.950.000 

C. Potensi Penghasilan
Potensi penghasilan akan sangat tergantung pada harga jual cabe di pasaran dan hasil panen. Untuk memperoleh gambaran aman bagi sahabat yang ingin memulai budidaya cabe rawit, kami akan ambil harga jual Rp.20.000 (harga tergolong rendah) untuk pengalinya. Jika satu batang cabe rawit bisa memproduksi 1kg buah cabe sepanjang masa budidaya, maka potensi panen adalah sebanyak 1.300kg atau 1,3 ton.

Dengan demikian, maka potensi penghasilan adalah sebagai berikut :
1.300kg x Rp.20.000 = Rp. 26.000.000

Potensi keuntungan =
Rp. 26.000.000 - Rp. 6.950.000 = Rp. 19.050.000
(Sembilan belas juta lima puluh ribu rupiah)

Dari paparan variabel modal di atas, beberapa modal bisa saja lebih mahal tergantung daerah masing-masing. Untuk daerah jauh dari peternakan contohnya, harga pupuk kandang bisa jadi akan lebih mahal sehingga memperbesar total biaya yang harus dikeluarkan. Beberapa variabel juga bisa jadi lebih murah, contoh saja variabel upah kerja bisa saja tidak dibayarkan jika petani mengerjakan sendiri semuanya. Namun bagaimanapun, analisa di atas kami coba susun sedemikian rupa untuk memberi gambaran bagi sahabat yang ingin memulai budidaya cabe rawit, semoga bermanfaat.

Untuk sahabat yang ingin melihat gambaran tahap awal persiapan lahan cabe rawit, bisa lihat video di bawah ini :


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama