Sumatera Barat adalah salah satu Provinsi di Indonesia yang terkenal dengan alamnya nan elok, budayanya nan kaya, serta sejarahnya yang panjang pada Republik ini. Keindahan alam ini tersebar merata pada tiap Kabupaten Kota di Sumatera Barat. Salah satu daerah yang punya banyak sekali potensi wisata alam adalah Kabupaten Solok. Setidaknya ada 3 danau yang jamak kita kenal berada di Kabupaten Solok, Danau Singkarak, Danau di Ateh dan Danau di Bawah. Meskipun masyarakat lokal mengenal lima danau, dua danau lagi yang sedang gencar dipromosikan adalah Danau Talang dan Danau Tuo.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Danau Kembar (Danau di Ateh dan Danau di Bawah), destinasi wisata yang berlokasi di daerah tinggi Alahan Panjang. Dari rumah, kami berencana untuk makan siang di pinggiran danau, menikmati santap makan sembari bersentuhan dengan lembutnya awan dan tiupan angin danau. Butuh kurang lebih 1 jam 30 menit berkendara dari pusat Kota Solok untuk menuju lokasi Danau Kembar. Akses jalan terbilang baik, lebar namun berkelok banyak, sehingga sulit untuk memacu kendaraan lebih cepat.

Beberapa kilometer sebelum sampai di danau kembar, hamparan kebun teh nan hijau telah menyapa di kiri kanan badan jalan. Untuk saya dan mungkin kebanyakan sahabat di sana, tak banyak kesempatan bagi kita untuk melihat lansung perkebunan teh, walau akrab dengan seduhan hangatnya. Sehingga ketika berkesempatan seperti saat sekarang, ada rasa ingin lebih lama untuk bisa berdekatan dengan rimbunnya dedaunan teh. Kami berganti rencana, tak jadi makan di tepi danau, semua sepakat untuk makan di pinggiran perkebunan teh.


Semula kami mencari bahu jalan yang lebar untuk menepi dan beristirahat dekat perkebunan teh ini, namun menimbang faktor keamanan dan keselamatan kami urungkan niat tersebut. Setelah beberapa belokan dan tanjakan, kami melihat plang merk besar di sebelah kiri, disana tertulis "Perkebunan Teh Danau Kembar, PTPN VI". Tak pikir panjang, saya yang saat itu tengah memegang kemudi langsung menyalakan lampu sign dan berbelok ke kiri mengikuti plang merk yang baru terlihat. Dalam hati saya menggumam, rasa-rasanya belum pernah masuk ke sini pada kunjungan yang lalu-lalu. Tak apalah, saya yakin tempat yang kami cari ada di dalam sana, begitu saya meyakinkan diri.

Satu kilometer menempuh jalan sempit dari persimpangan, kami semua takjub karena jalan ini mengarahkan kami ke Pabrik pengolahan teh milik PTPN VI. Ternyata di dalam ini ada hamparan perkebunan teh yang jaaaaauh lebih luas ketimbang yang kita lihat di jalan luar tadi. Barisan bebukitan dipenuhi hijaunya daun-daun teh, dan ini tak terlihat dari jalan utama. Beberapa mobil pengunjung terlihat sudah lebih dahulu sampai dan menikmati sejuknya hawa dataran tinggi sambil berswafoto dari dalam kebun.

Saya mencari tempat yang agak luas untuk parkir kendaraan, melihat suasana jalan yang tidak lebar saya yakin benar ini akses untuk kegiatan produksi pabrik. Tak ingin mengganggu peruntukkan jalan, saya mencari agak ke dalam melampaui pabrik dan masuk lebih jauh ke bebukitan perkebunan sampai ketemu bahu jalan yang luas dan segera menepi. Sejurus kemudian kami sudah menikmati bekal yang telah disiapkan dari rumah, luar biasa nikmat makan di lokasi ini, susah untuk saya tulis dan jelaskan pada sahabat semua.


Singkat cerita, di sela makan saya melihat hal menarik yang mengusik naiknya suapan nasi, mengundang penasaran untuk mendekati dan menyimak lansung. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi kebun teh, belasan kali sudah mungkin lebih. Namun ini kali pertama saya menyaksikan langsung para pemetik teh sedang memanen daun teh. Terang saja saya percepat selesainya makan, mencuci tangan lantas beranjak mendekat dengan kamera handphone standby dalam posisi menyala.

Setelah berada pada posisi dekat dengan ibu-ibu pemetik daun teh, saya meminta izin untuk merekam kegiatan beliau untuk dibagikan via internet. Sembari terus merekam saya mengajak ibu-ibu ini berbincang, tangan beliau terlihat cekatan menggunting daun-daun teh muda walau nyambi menjawab yang saya tanyakan. Seluruh pemetik di sini adalah kaum ibu, perempuan-perempuan hebat yang bekerja dengan target panen 52kilogram perharinya.

"Kami ditarget untuk panen 52 kilogram sehari dengan 3 periode pemetikan, pagi siang dan sore. Jarang sekali tidak bisa penuhi target kerja, yang ada biasanya melampaui target, dan ada apresiasi berupa tambahan penghasilan ketika kami melampaui target tersebut." Terang Bu Yati, salah satu Ibu hebat yang banyak berikan cerita pada saya. Bu Yati dua tahun lagi pensiun, masih menurut cerita beliau bahwa mayoritas pekerja pemetik daun teh berstatus karyawan tetap di PTPN VI.


Tebing-tebing bukit perkebunan teh ini cukup curam, orang yang tak biasa mendaki macam saya tentunya akan merasa cukup kewalahan. Sementara Ibu-ibu tangguh ini selain menahan beban berat badan, masih ditambah dengan bakul berisi penuh daun teh yang saya yakin beratnya bisa 20 kiloan. Saya mengamati bahwa daun yang dipanen memang adalah daun muda, persis bak iklan "pucuk, pucuk, pucuk". Dari sini, daun teh yang dipetik lantas ditimbang oleh truck penjemput untuk dibawa ke Pabrik dan menempuh proses pengolahan selanjutnya.

Untuk sahabat pembaca yang ingin mendapatkan lansung pengalaman menyaksikan proses pemetikan daun teh, bisa mengunjungi lokasi ini saat pagi sekitar jam 8-10, atau siang sekitar jam 11-1, dan sore jam 2-4. Menyaksikan langsung proses panen selain bisa memberi pengalaman baru, juga bisa membuat kita lebih menghargai tiap tegukan teh yang kita minum. Ada proses panjang dan semangat ibu-ibu hebat yang sepenuh hati memetik daun-daun teh muda untuk kita seduh dan nikmati bersama keluarga.

Tertarik untuk ke Perkebunan Teh di Danau Kembar Solok? Sahabat bisa simak video berikut ini untuk tahu lebih jelas pemandangan seperti apa yang bisa didapat. Jangan lupa subscribe dan bagikan ya, terimakasih.

Official instagram : www.instagram.com/dosen.petani
Official Youtube Channel : www.youtube.com/c/DosenPetani
for business inquiries : dosenpetani@gmail.com


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama