Ikan Koi atau dalam nama latin cyprinus carprio adalah keluarga dari ikan mas. Yang membuatnya menjadi istimewa adalah corak warnanya yang indah, mampu membuat mata orang terkagum-kagum. Di Indonesia sendiri, ikan koi sebenarnya telah lama dibudidayakan para peternak, selama ini penghasil koi terbesar di Indonesia adalah daerah blitar Jawa Timur.

Untuk para penghobi, mengkoleksi ikan koi adalah sebuah kepuasan yang layak dibayar mahal. Karenanya harga ikan koi ini cukup membuat kita berdecak kagum. Seekor ikan koi bisa saja dibanderol belasan juta rupiah, tergantung corak, kelas hingga garis keturunan si koi. Kenyataan ini tentu saja cukup menggiurkan bagi para peternak.

Saya termasuk awam perkara ikan hias, namun informasi ini tentu cukup menarik untuk saya bagikan bagi sahabat di sana. Barangkali saja sahabat tertarik dengan prospek bisnis peternakan ikan yang satu ini. Dengan alasan ini, saya memutuskan untuk mengunjungi Pak Idris dan Datuak Cumano, kolega yang sudah 8 tahun terakhir membudidayakan ikan koi. Saya ingin menggali banyak cerita dari beliau berdua, menjawab penasaran kenapa ikan ini bisa begitu mahal.



Kolam budidaya koi milik Pak Idris dan Datuak Cumano berlokasi di Nagari Mungo, Kecamatan Luak Kabupaten Lima Puluh Kota. Butuh waktu kurang lebih 15 menit berkendara dari Pusat Kota Payakumbuh. Di sini, saya mulai mengeruk informasi menjawab rasa penasaran yang saya bawa dari rumah. Tahapan budidaya saya mulai kejar, perilaku pemijahan, pembagian kolam hingga kesulitan-kesulitan dalam pembudidayaan.

Datuak Cumano dan Pak Idris bercerita banyak, memperlihatkan pada saya seraya memberi izin untuk me"youtube"kan semua proses budidaya untuk hasilkan koi berkualitas tinggi. Sepanjang bercerita dengan peternak hebat ini, satu rasa penasaran saya terjawab tuntas. Awalnya saya berpikir harga koi sangat tidak masuk akal, dibanding koleganya si ikan mas yang harganya tak lebih 30ribu per kilogram. Dari ribuan anakan koi yang dihasilkan dari proses pemijahan, belum tentu akan dapatkan 10 ekor saja yang layak disebut "grade A", kelas awal untuk pelabelan keindahan ikan hias jenis ini.

Belum lagi proses persilangan koi yang rumit, indukan sedarah tidak bisa digunakan untuk beroleh hasil corak yang baik. Jika memaksa melakukan pemijahan dengan garis keturunan yang sama, akan berdampak pada buruknya daya tahan ikan ini. Seleksi demi seleksi terus dilakukan secara kontinyu dan tercatat, bahkan anakan yang saya lihat sendiri hari ini ditebar ke kolam pendederan itu tercatat dari mana garis keturunannya. Proses ribet dan memakan waktu cukup lama ini menjadi nilai tawar bagi peternak untuk masuk ke pasar penghobi.



Menutup perbincangan, Pak Idris dan Datuak Cumano memaparkan kemana target dan arah pembudidayaan yang sedang beliau kerjakan. Saat ini beliau berdua fokus untuk "naik kelas" ikan koi mereka, targetnya minimal naik ke SQ (Standart Quality). Untuk itu, proses pemijahan dikontrol lebih ketat, perkembangan dalam pendederan juga tidak sedikitpun luput dari pengawasan. Termasuk dengan kelayakan pakan dan kolam yang digunakan selama masa pemeliharaan, terjaga dan diawasi dengan baik.

Untuk sahabat yang ingin tau lebih banyak tentang sentra budidaya ikan koi di Sumatera Barat ini, bisa simak videonya di bawah ini. Semoga informasi ini bermanfaat, tetap jaga kesehatan di tengah wabah yang belum berkesudahan ini. Terakhir, izinkan kami mengucapkan "Selamat Iedul Fitri 1441 Hijriah, Semoga di hari kemenangan ini kita benar-benar peroleh kemenangan dan menjadi insan yang sehat lahir dan bathin".

Official instagram : www.instagram.com/dosen.petani
Official Youtube Channel : www.youtube.com/c/DosenPetani
for business inquiries : dosenpetani@gmail.com






Post a Comment

Lebih baru Lebih lama