Sudah tiga bulan corona membayang-bayangi hampir seluruh aspek hidup masyarakat Indonesia. Terhitung sejak tanggal 2 Maret 2020, saat presiden Jokowi mengumumkan 2 orang positif corona di Indonesia, ada banyak kebijakan yang dibuat pemerintah pusat dan daerah sebagai reaksi dan penanggulangan wabah. Kebijakan-kebijakan tersebut salah satunya berupa pembatasan banyak aktivitas yang hilirnya tentu berdampak pada roda ekonomi masyarakat.

Salah satu elemen masyarakat yang terdampak wabah corona adalah sahabat kita, para petani. Di kota Payakumbuh, Sumatera Barat, kami sempat berdiskusi dengan beberapa petani terkait sejauh apa dampak corona terhadap kegiatan pertanian mereka. Mayoritas menjawab bahwa corona berdampak besar utamanya terhadap nilai ekonomis dari kegiatan pertanian itu sendiri. Beberapa aspek menjadi sebab penurunan pendapatan mereka, salah satunya dampak karena pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Sumatera Barat.

Kota Payakumbuh selama ini dikenal sebagai salah satu daerah pensuplai beras ke beberapa daerah lain di Sumatera Barat, dan Provinsi tetangga seperti Riau, Kepulauan Riau dan Jambi. PSBB, meskipun masih mengizinkan arus distribusi barang kebutuhan pokok, nyatanya tetap membuat penurunan angka distribusi beras keluar Payakumbuh. Penurunan penjualan beras ini berdampak terhadap menurunnya harga beli gabah di tingkat pengepul (toke), menurut Kang Acon terjadi penurunan setidaknya Rp.1000,00 dari saat sebelum wabah corona. Harga gabah basah periode panen maret 2020 diganjar Rp.6.300,00 per kilogram, sementara setelah wabah corona harga turun menjadi Rp.5.200 per kilogram. Kondisi ini diperparah dengan mayoritas pengepul yang mengurangi belanja gabah mereka, "banyak pula toke yang tidak ambil gabah karena penjualan beras mereka yang turun" terang Kang Acon.



Di lain kesempatan, hendro seorang produsen tahu dan pedagang sayur di Pasar Ibuh Timur Kota Payakumbuh juga mengamini penurunan omset tersebut. Setidaknya terjadi pengurangan omset hingga 50% jika dibanding kondisi normal, belum lagi jika meninjau bahwa sekarang adalah bulan ramadhan yang biasanya menjadi momen panen bagi para pedagang. Kecenderungan peningkatan omset di bulan ramadhan justru tak terjadi di tahun ini disebabkan wabah covid19 ini. "Jangankan bicara bonus omset karena ramadhan, dibanding waktu normal di luar ramadhan saja sekarang kita kewalahan. Pengunjung pasar jauh berkurang, ini yang buat omset kita hilang sekitar 50%" tutur Hendro.

Saat saya menemui Hendro, suasana Pasar Tradisional Ibuh Timur ini memang cenderung jauh lebih lengang ketimbang biasanya (sebelum covid19). Lebih banyak pelapak yang bermenung sembari menunggu pembeli, hampir semua orang di pasar ini terlihat menutupi wajah mereka dengan masker. Kalaupun ada yang tak gunakan masker, itu hanya sebagian kecil saja, mungkin satu persen dari total manusia yang beraktivitas di pasar saat saya mengunjunginya.

Masih di Pasar Ibuh Timur, saya mengunjungi senior saya waktu di kampus yang sehari-hari menjadi supplier pisang untuk Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Pisang di gudang beliau, dipasok dari daerah kepulauan seperti kepulauan mentawai dan kepulauan nias. "Meski masih belum terlalu ngos-ngosan, faktanya kami juga mengalami penurunan omset mendekati 50% juga dari kondisi normal. Apalagi dibanding kondisi ramadhan tahun-tahun lalu, makin jauh bedanya. Tahun lalu ada pasa pabukoan (pasar takjil / makanan untuk berbuka) yang membuat permintaan pisang sangat tinggi, hari ini pasa pabukoan kan tidak ada. Tapi apapun itu, bersyukur sajalah apapun yang kita terima, semoga wabah ini segera berakhir, insyaAllah, Aaamiin". Tutup Yan Azmi menyudahi bincang singkat kami di tengah kesibukan beliau menata pisang-pisang di gudangnya.



Tidak sampai di sana, Rio pemilik toko pupuk Sentra Tani di Sungai Kamuyang juga menuturkan hal yang serupa. Menurutnya, meskipun yang paling terdampak itu adalah petani, namun penyedia pupuk dan obat pertanian seperti dirinya pun terkena imbas dari turunnya pendapatan petani. Banyak petani yang menunda pemupukan atau mengurangi takaran pemupukan, hal ini tentu mengurangi jumlah penjualannya dibanding kondisi normal. "Belum lagi untuk urusan perawatan seperti pestisida yang tidak bisa ditunda-tunda, banyak langganan yang biasanya nggak pernah ngutang sekarang mohon supaya dihutangi dulu. Ya kita mau gimana, namanya langganan", cerita Rio sembari sedikit tertawa.

Kita semua tentu berharap agar wabah corona ini segera selesai di seantero bumi, sebab jelas sekali ada banyak dampak yang masyarakat rasakan selama gerogotannya menghantui kita. Namun, dibalik semua kesulitan yang sudah sahabat baca, saya bergidik merinding menangkap semangat sahabat-sahabat kita para petani. Mereka tetap terus melanjutkan menanam, merawat tanaman sebaik yang mereka bisa. Tujuannya satu, agar Indonesia tidak kelaparan, agar pertiwi tak kekurangan bahan pangan.

Terimakasih banyak pahlawan pangan Indonesia, kalian layak dicatat bertinta emas sebagai salah satu pejuang terdepan dalam melawan wabah corona. Tidak ada cerita berbadan sehat kalaulah perut menahan lapar. Tetaplah bertanam, tetaplah rawat padi di sawah, biar Allah yang membalas semua jasa baik kalian. Semoga sahabat yang membaca tulisan singkat ini ikut mengamini semua doa dan harapan kita bersama. Untuk sahabat yang mau menyaksikan videonya, silahkan klik thumbnail video di bawah tulisan ini.

Official instagram : www.instagram.com/dosen.petani
Official Youtube Channel : www.youtube.com/c/DosenPetani
for business inquiries : dosenpetani@gmail.com



Post a Comment

أحدث أقدم