Sudah lama betul rasanya Aku tertarik pada dunia pertanian, meski secara akademis tidak menimba ilmu pada bidang ini. Garis keturunan dan lingkungan membuat diskusi tentang pertanian selalu ada menghias hari-hari yang Ku jalani. Kakek-Nenekku petani, menghantar Mama dan Om ku masuk Universitas dengan membalik tanah pagi hingga petang. 

Meski di keluarga tidak pernah diarahkan menjadi petani, bahkan sedikit tidak disetujui, toh Aku tetap berusaha belajar sendiri. Ada semacam rayuan dari lambaian dedaunan tanaman agar aku mendekat dan memperhatikan mereka, menyimak bagaimana mereka hidup dan memberi manfaat pada manusia. Setelah cukup lama melihat jauh, pada 2014 ku putuskan untuk terjun langsung menyentuh pertanian dengan bantuan beberapa orang teman.

Pada percobaan pertama di awal tahun 2014, Aku terhempas dan gagal besar secara finansial. Jangankan keuntungan yang Ku terima, dampaknya justru kerugian yang mencatatkan goresan hutang. Namun dari sini Aku bisa paham, ternyata menjadi petani tidak sesederhana memegang tangkai pacul lalu membabibuta mengayunkan ke tanah sembari berharap hasil panenmu kan jadi ongkos ke tanah suci. Perlu manajemen yang baik, ilmu yang cukup terkait budidaya tanaman agar resiko kegagalan menjadi minimum.



Setelah kegagalan pertama, Aku masih mencoba menggarap lahan dengan sumberdaya yang sangat terbatas. Sembari waktu berjalan aku terus belajar mengoptimalkan hasil dari kegiatan pertanian yang aku lakukan. Di sana pula Aku menilik dan mengidentifikasi permasalahan yang ada di petani, khususnya di Sumatera Barat tempatku berada. Faktor apa saja yang sekiranya menjadi hambatan petani dalam memaksimalkan produksi lahan mereka.

Beberapa hal teridentifikasi sebagai penyebab kurang maksimalnya garapan para petani di sini. Ketidaktepatan pemilihan tanaman terhadap lahan dan kondisi cuaca contohnya, belum lagi tentang kurangnya pengetahuan petani terhadap aturan dan takaran penggunaan obat dan pupuk selama pemeliharaan tanaman. Hal-hal mendasar seperti itu kerap membuat petani seperti berjudi saat budidaya, benar-benar berserah saja ketika panen nanti akan dibayar berapa upah lelah mereka. Hampir tidak ada perencanaan matang dengan dasar kuat saat memilih atau memutuskan masa mula tanam serta tanaman apa yang dibudidayakan.

Kondisi seperti ini akhirnya membuat petani yang berhasil hanya sebagian saja, kalau lah tidak enak menyebut banyak yang sekedar menutup biaya dari hari ke hari saja. Sementara kita semua tau bahwa kebutuhan dapur masyarakat hulunya adalah lahan para petani. Artinya untuk kebutuhan yang sedemikian besar, petani mestinya tak kesulitan untuk mensuplai hasil panen mereka yang muaranya konversi ke bentuk uang untuk perbaikan kesejahteraan para petani. Namun, sekali lagi fakta membuktikan bahwa bukan sekali dua kali saja kita melihat di berita televisi petani sampai membuang hasil kebun karena stock melimpah dan nilai jual yang amat rendah.



Menyikapi hal ini, penting sekali menyebarkan informasi kepada para petani utamanya di kampung-kampung tentang pentingnya perencanaan dan manajemen pertanian. Upaya persuasif untuk mengajak petani berpikir tentang peran vital mereka terhadap keberlanjutan kehidupan perlu terus digerakkan. Peran besar dari para petani inipun layak memperoleh ganjaran baik berupa penghargaan yang tinggi terhadap hasil panen. Muara dari semua ini tentu adalah perbaikan terhadap pendapatan dan taraf hidup dari petani itu sendiri.

Misalnya saja untuk satu tahun ke depan, kita bisa memperoleh informasi prakiraan cuaca untuk lokasi lahan budidaya berikut curah hujan beserta kelembapan. Data tersebut bisa kita jadikan acuan untuk menentukan "menanam apa di bulan berapa", dengan memperhitungkan syarat tumbuh suatu tanaman terhadap cuaca. Menanam cabe di musim penghujan akan beresiko gagal panen karena rentan terhadap jamur, namun jika berhasil berpeluang memperoleh harga tinggi sebab faktor suplai yang terbatas. Contoh lain adalah menanam sayuran seperti bayam dan kangkung saat musim kemarau cenderung menguntungkan sebab banyak petani yang tidak menanamnya, namun kegiatan budidaya sedikit berat karena sayuran tersebut membutuhkan cukup banyak air.

Dari sedikit simulasi yang Aku coba jabarkan tadi, terlihat bahwa penting sekali untuk merencanakan pembudidayaan tanaman jika ingin memperoleh penghasilan optimal. Sebab sampai detik ini pertanian tetap menjadi lahan seksi untuk memperoleh pendapatan yang menjanjikan, selama perencanaan dan teknis budidaya dikuasai dengan baik. Ketika perpaduan antara ilmu yang hebat bertemu dengan perencanaan yang tepat, di saat itulah semestinya para petani akan menerima nilai lelah yang naik berlipat. 

Official instagram : www.instagram.com/dosen.petani
Official Youtube Channel : www.youtube.com/c/DosenPetani
for business inquiries : dosenpetani@gmail.com



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama