Seperti sore-sore nan lalu, Aku kembali duduk di pekarangan sembari bersentuhan dengan tanaman yang dibudidayakan. Di lahan sempit ini, Aku coba maksimalkan manfaatnya dengan menanam beberapa jenis tanaman. Selain menjadi sarana belajar dan eksperimen, dari pengalaman yang sudah-sudah hasilnya cukup untuk membantu pemenuhan kebutuhan dapur.

Ada cabe rawit, sedikit daun sup dan juga jagung yang Ku tanam di halaman. Komoditas ini sama dengan yang Ku budidayakan di kebun Ku, selanjutnya Aku akan mencoba menanam bawang merah dan bawang putih. Dengan mencoba di lahan kecil seperti yang aku lakukan, biaya belajar tentu saja tidak mahal karena skala budidaya yang tidak besar. Artinya jika gagal tidak akan rugi banyak, namun jika berhasil bisa diaplikasikan ke lahan yang lebih besar, selain hasilnya bisa untuk konsumsi sendiri.

Pada dasarnya kita semua bisa mempersiapkan kebutuhan pangan kita sendiri, mandiri bahan pangan itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Ketika mayoritas masyarakat Indonesia makanan pokoknya adalah beras, maka bertanam padi di halaman dengan pot itu bukan tidak mungkin. Bahkan dewasa ini ada banyak yang mencoba budidaya padi secara hidroponik dengan menata ruang kosong di sekitaran rumah saja. Selain tujuan hobi, beberapa diantaranya berhasil mensuplai kebutuhan dapur lewat pemanfaatan pekarangan yang mereka punya.


Di lahan nan tak luas ini, Aku menata barisan-barisan tanaman kebutuhan dapur dan merawatnya sebaik mungkin. Dengan perlakuan yang baik, lahan empat kali lima meter ini cukup untuk melepas penat sepulang kerja dengan bonus hasil panen pencukup kebutuhan keluarga. Pada budidaya sebelumnya, setidaknya empat hingga lima kilo cabe rawit bisa kami peroleh dari pekarangan. Itu dengan kondisi perawatan yang kurang maksimal, sebab di masa itu ada beberapa hal yang menyita banyak perhatian.

Pertanian dengan skala kecil seperti di pekarangan cenderung lebih minim resiko ketimbang skala besar, selain juga modal yang tidak akan besar. Merawat 100 batang cabe tentu tidak akan serumit "menggilai (merawat, minang)" 10.000 batang. Untuk pemenuhan kebutuhan dapur satu keluarga dengan anggota 5 orang, 100 batang itu cukup untuk keperluan dari hari ke hari. Begitu pula halnya dengan tomat, bawang merah, bawang putih, bawang daun serta bahan dapur dan sayuran lain, jumlah konsumsi untuk keluarga itu tidaklah banyak.

Jikalau orientasi kita adalah nilai uang dan sisi praktisnya, kebun di pekarangan tentu tidak menarik. Sebab dengannya akan ada waktu tersita dan butuh beberapa purnama hingga bisa dipanen, tidak mungkin tanam hari ini lantas bisa untuk pemenuhan kebutuhan esok pagi.  Akan ada proses tumbuh yang mesti kita lalui hingga waktunya si tanaman "membalas budi" pada tuan yang menanam dan merawatnya. Paling tidak tanaman cepat panen seperti kangkung dan bayam saja butuh waktu hingga 25 hari sejak bibit disemai hingga bisa kita bawa ke kuali tumis.


Namun jika orientasi kita adalah mandiri secara pangan tentu akan berbeda cerita. Tiap-tiap ruang kosong di rusuk-rusuk halaman menjadi celah untuk dimanfaatkan dalam budidaya tanaman utamanya kebutuhan dapur. Limbah plastik tak terpakai dapat disulap menjadi polybag media tumbuh bagi tanaman, seperti wadah minyak goreng kemasan plastik contohnya. Jikalau ada hampararan kosong yang sedikit luas, kita dapat membuat bedengan tanam dan menggunakan mulsa seperti yang dilakukan petani di kebun-kebun mereka.

Dalam siklus tumbuh si tanaman, kita yang membudidayakan di rumah tentu tau betul tingkat keamanan si sayur-mayur ini. Jelas tidak mungkin kita akan menggunakan pestisida berlebihan atau mungkin mengoplos pestisida dari bahan berbahaya seperti pengkilap porselen dan lain sebagainya. Meski Aku menentang stigma bahwa petani itu "nakal" dalam urusan keamanan produk pertanian, namun fakta di lapangan masih ada oknum yang sengaja menafikan bahaya demi keuntungan semata. Masih ada oknum yang menutup mata tentang bahaya yang akan datang ketika menambahkan bahan berbahaya dan bukan diperuntukkan bagi tanaman demi menekan biaya perawatan.

Selain keuntungan kekuatan pangan mandiri yang bisa kita peroleh dari kegiatan budidaya tanaman di pekarangan rumah, sisi positif lainnya adalah berkebun di halaman bisa jadi obat stres. Sehingga pepatah sekali dayung dua tiga pulau terlampaui agaknya tepat dipakai pada kegiatan ini, sebab dari satu kegiatan ada beberapa keuntungan yang kita dapatkan. Dengan berkebun di pekarangan, kita bisa wujudkan ketahanan pangan serta pelepas lelah dan obat stres.

Official instagram : www.instagram.com/dosen.petani
Official Youtube Channel : www.youtube.com/c/DosenPetani
for business inquiries : dosenpetani@gmail.com




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama