Sudah tiga hari terakhir pagiku berbeda, tak lagi bersepatu kilap dan licin kemeja. Selepas secangkir kopi seduhan istri, aku ucap salam dengan senyuman lantas beranjak dari rumah. Jalan yang ku tempuh sekarang berbeda, tidak lagi "meracak" roda keluar kota, hanya beberapa ratus meter saja untuk bekerja.

Wabah corona membuat Rektor mengambil kebijakan untuk merumahkan segala aktivitas. Perkuliahan yang semula dilaksanakan dengan tatap muka langsung, berganti dengan kuliah online di rumah masing-masing. Artinya, kami tenaga pengajar ini pun menjalankan hari tak lagi seperti biasa, lebih banyak memegang gawai untuk menjalankan tugas. Sebab itu pulalah mungkin aku sempat menulis di blog ini.

Sebagai "Dosen Petani", nama yang ku coba sematkan pada badan diri, memanglah aktivitas ini berjalan pada keduanya. Sebagai dosen aku belajar dan berbagi tentang ilmu komputer. Sementara sebagai petani, aku belajar dan berbagi tentang budidaya tanaman yang tepat dan menguntungkan. Pada keduanya aku ingin menjadi hebat dan menebar manfaat, bukan sekedar gagah-gagahan atau menjadi kolektor penghargaan dan sertifikat.



Ketika siang saat matahari mulai sedikit sombong, aku putuskan berteduh sejenak untuk beristirahat. Gulungan tembakau yang tidak sehat ini masih saja menggoda untuk disapa. Sebelum memulai renungan, aku masih sempat membasahi kerongkongan dengan air, sejurus kemudian pikiran ku sudah terbang kemana-mana. Pertanyaan datang bertubi-tubi, meski ku minta mereka antri dan dijawab silih berganti. 

Aku penasaran kenapa anak-anak muda banyak yang tidak tertarik menjadi petani. Padahal dalam simpulanku, Indonesia dengan subur tanahnya sangat butuh orang-orang muda untuk memajukan pertaniannya. Negeri ini butuh jiwa-jiwa segar dengan tenaga bugar dan ilmu yang gahar, agar swasembada menjadi realita bukan sekadar angan atau wacana. Di depan mataku persawahan terhampar luas, namun miris ketika ingat bahwa kita masih impor beras dari vietnam dan thailand.

Hati ini tergelitik ketika melihat ada banyak petani yang tak mengizinkan anaknya jadi petani, mereka paksa anaknya mengenyam pendidikan tinggi dengan tujuan tak lagi menginjak sawah atau menyapa ladang. Padahal ku pikir buruh tani saja hitungan penghasilannya sama saja dengan pekerja kantoran. Jika pekerja kantoran bisa bawa pulang 3 juta sebulan, buruh tani bisa bawa pulang 100 ribu satu hari. Jika matematika SD ku tidak salah, seharusnya penghasilan mereka sama saja.

Mengapa malu menjadi petani jika ternyata sawah bisa hasilkan emas berbongkah? Jika tanyamu coba membantah dengan menyebut "faktanya petani banyak yang pra-sejahtera". Maka jawabnya adalah, coba kau lihat apa sebab mereka belum bebas dari sengsara. Coba simak dan amati baik-baik, sudahkah petani kita peroleh hasil maksimal untuk budidaya yang mereka lakukan. Selanjutnya aku akan beri saran padamu untuk kumpulkan pula data ada berapa anak muda Indonesia yang berjaya ketika menekuni pertanian.


Di tulisan ini aku tidak bermaksud menyuruh anak-anak muda berhenti sekolah dan menjadi buruh tani saja. Sejujurnya, aku berharap adik-adikku mengenyam bangku pendidikan tinggi, agar dunia mereka terbuka lebar dan menangkap peluang untuk kemajuan bersama. Supaya anak-anak muda ini terbiasa berpikir kritis dan tak lagi menjadi Yes Man yang bisa saja disetir karena tak menyaring informasi. Pendidikan pasti berpengaruh terhadap cara, gaya dan arah berpikir manusia, aku setuju dan tidak mencoba membantah hal ini.

Justru aku berharap kawan-kawan mahasiswa komputer akan lahirkan teknologi yang mampu dongkrak hasil pertanian. Selanjutnya adik-adik mahasiswa Agribisnis mampu mewujudkan rantai yang kuat dari hulu hingga ke hilir sehingga pertanian menjadi hal yang menjanjikan. Begitu pula pemuda-pemudi dengan bidang ilmu lain yang pasti bisa memberi sumbangsih bagi pertanian Indonesia, aku sebut "pasti"!

Ketika kesadaran dan kepedulian anak-anak muda Indonesia terhadap pertanian sudah baik, aku yakin benar kita bisa jadi raja. Dengannya harkat martabat petani pasti akan tinggi, tak lagi sekedar jadi jualan jikalau hendak pemilihan. Petani dan pertanian pasti tidak sekedar mencangkul atau berpanas-panasan menantang surya, sebab ide-ide brilliant pemuda mungkin saja mengubahnya menjadi agrowisata atau bentuk lain yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya.

Menutup tulisan ini, sebelum nikmati bekal makan siang yang sudah menanti suapan datang, biar kutarik sedikit simpulan. Aku sudah menugaskan diri ini untuk menjadi pribadi yang akan suarakan peluang pertanian, menjadi orang yang akan mengajak kawan-kawan muda untuk melirik ke sawah dan ke ladang. Jika tak ada lagi anak muda yang mau menengok lumpur, bersiaplah untuk kondisi sayuran dan buahan impor yang penuhi dapur.

Official instagram : www.instagram.com/dosen.petani
Official Youtube Channel : www.youtube.com/c/DosenPetani
for business inquiries : dosenpetani@gmail.com






Post a Comment

Lebih baru Lebih lama